Kamis, 23 April 2015
IMAM Al-Ghazali menjelaskan bahwa cara bersyukur kepada Allah SWT terdiri dari empat komponen, yaitu:
1. Syukur dengan Hati.
Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah,” (QS. An-Nahl: 53)
Syukur dengan hati dapat mengantar seseorang untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini akan melahirkan betapa besarnya kemurahan dan kasih sayang Allah sehingga terucap kalimat tsana’ (pujian) kepada-Nya.
2. Syukur dengan Lisan.
Ketika hati seseorang sangat yakin bahwa segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari Allah, maka spontan ia akan mengucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi Allah). Karenanya, apabila ia memperoleh nikmat dari seseorang, lisannya tetap memuji Allah. Sebab ia yakin dan sadar bahwa orang tersebut hanyalah perantara yang Allah kehendaki untuk “menyampaikan” nikmat itu kepadanya.
“Al” pada kalimat “Alhamdulillah” berfungsi sebagi “istighraq” yang mengandung arti keseluruhan. Sehingga kata alhamdulillah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah S.W.T, bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya. Oleh karena itu, kita harus mengembalikan segala pujian kepada Allah.
Pada saat kita memuji seseorang karena kebaikannya, hakikat pujian tersebut harus ditujukan kepada Allah S.W.T.
Sebab, Allah adalah Pemilik Segala Kebaikan.
3. Syukur dengan Perbuatan.
Syukur dengan perbuatan mengandung arti bahwa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan yang diridhoi-Nya. Misalnya untuk beribadah kepada Allah, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya. Nikmat Allah harus kita pergunakan secara proporsional dan tidak berlebihan untuk berbuat kebaikan.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa Allah sangat senang melihat nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah senang melihat atsar (bekas/wujud) nikmat-Nya pada hamba-Nya,” (HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr).
Maksud dari hadits diatas adalah bahwa Allah menyukai hamba yang menampakkan dan mengakui segala nikmat yang dianugerahkan kepadanya. Misalnya: Orang yang kaya hendaknya membagi hartanya untuk zakat, sedekah dan sejenisnya. Orang yang berilmu membagi ilmunya dengan mengajarkannya kepada sesama manusia, memberi nasihat, dsb.
Maksud membagi diatas bukanlah untuk pamer, namun sebagai wujud syukur yang didasaari karena-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur),” (QS. Adh-Dhuha: 11).
4. Menjaga Nikmat dari Kerusakan.
Ketika nikmat dan karunia didapatkan, cobalah untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Setelah itu, usahakan untuk menjaga nikmat itu dari kerusakan. Misalnya: Ketika kita dianugerahi nikmat kesehatan, kewajiban kita adalah menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar agar terhindar dari sakit. Demikian pula dengan halnya dengan nikmat iman dan Islam, kita wajib menjaganya dari “kepunahan” yang disebabkan pengingkaran, pemurtadan dan lemahnya iman.
Untuk itu, kita harus senantiasa memupuk iman dan Islam kita dengan shalat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis-majelis taklim, berdzikir dan berdoa. Kita pun harus membentengi diri dari perbuatan yang merusak iman seperti munafik, ingkar dan kemungkaran.
Intinya setiap nikmat yang Allah berikan harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Allah S.W.T menjanjikan akan menambah nikmat jika kita pandai bersyukur, seperti pada firmannya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU), sungguh adzab-Ku sangat pedih,” (QS. Ibrahim: 7). [rki]
Kamis, 09 April 2015
Kesabaran adalah salah satu kunci menuju kebahagiaan. Terkadang, kesabaran juga diperlukan untuk menggapai kesuksesan dan berbagai target dalam hidup. Namun jangan salah, untuk menjadi sabar tidaklah semudah yang kita perkirakan. Selalu saja ada berbagai hal yang seolah membuat kita ingin menyelesaikan sesuatu secepat mungkin, dan melupakan prinsip-prinsip kesabaran.
Dalam artikel ini, Top10Indo akan memberikan beberapa tips sederhana untuk menjadi orang yang sabar. Jangan kaget, setelah anda membiasakan diri untuk jauh dari pola hidup yang serba terburu-buru, anda akan merasa kehidupan akan menjadi lebih damai dan tentram untuk dijalani. Langsung saja, berikut tips untuk menjadi orang sabar:
10. Belajar untuk rileks
Salah satu pemicu sikap tidak sabar adalah kurangnya kemampuan untuk bersikap tenang dan rileks. Untuk menghindari hal ini, sebelum mengambil keputusan-keputusan penting atau sebelum berinteraksi dengan orang lain, cobalah untuk membuat tubuh anda rileks terlebih dahulu. Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, yang paling mudah adalah dengan cara memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.
Jika anda mempunyai banyak waktu, anda bisa mendengarkan musik-musik yang membuat rileks, berendam air hangat, atau menggunakan aroma terapi tertentu. Yang penting, jangan sampai anda berada dalam keadaan tegang dan tertekan.
9. Fokus pada tujuan akhir
Poin ini penting, terutama dalam kesabaran yang erat hubungannya dengan keputusan-keputusan penting di masa depan, misalkan menunggu saat yang tepat untuk membelanjakan uang anda, atau memilih untuk melakukan investasi. Ingat, anda harus selalu berfokus pada tujuan akhir untuk menghidari sikap terburu-buru yang bisa berakibat sangat fatal.
Dalam hal-hal kecil, fokus pada tujuan akhir juga bisa membuat anda lebih sabar. Ingatlah tujuan akhir anda, baik sebagai pelajar, seorang profesional, ibu rumah tangga, atau bahkan tujuan akhir yang ingin anda capai sebagai seorang manusia. Hal ini akan mencegah anda melakukan hal-hal yang hanya bersifat untuk melampiaskan keinginan sesaat.
8. Membiasakan diri untuk menulis
Menulis adalah salah satu terapi untuk menjadi orang sabar, baik sabar yang berarti kemampuan untuk menahan emosi, atau sabar yang berarti kemampuan untuk menahan diri demi masa depan yang lebih baik. Biasakanlah untuk menulis segala sesuatu yang anda alami, bisa dalam bentuk diary atau berupa jurnal yang mencatat progress aktivitas yang anda lakukan.
Menuliskan progress juga bisa membuat anda bisa memonitor seberapa dekat posisi anda dengan tujuan akhir yang sudah ditentukan. Hal ini akan membuat kita lebih mudah menahan diri dan bersabar melalui kehidupan.
7. Berpikir positif
Berpikirlah positif tentang diri anda, tentang orang lain, dan tentang hal-hal yang sedang anda lakukan. Biasakan pula untuk berpikir positif dalam menghadapi masa depan, dan cobalah untuk mengambil hikmah dari setiap hal buruk yang terjadi. Jika sikap ini ditanamkan dengan baik, maka anda sudah satu langkah lebih dekat untuk menjadi pribadi yang sabar.
Dengan membiasakan diri berpikir positif, kita akan menjadi lebih optimis dalam menjalani hidup. Hasilnya, kita juga akan memancarkan aura yang positif, yang membuat orang lain merasa senang berada di dekat kita. Hal ini bisa membuat diri anda lebih mudah dalam menjalin relasi dan mendapatkan teman.
6. Bersiap untuk menghadapi hal-hal yang tidak diperkirakan
Sikap tidak sabar biasanya muncul karena ada berbagai hal yang tidak sesuai dengan perkiraan kita. Misalkan, kita sudah berencana untuk menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk menabung di bank. Ternyata, antrian yang ada cukup panjang, sehingga anda harus menunggu lebih lama. Jika anda tidak terbiasa untuk sabar, kejadian-kejadian seperti ini bisa terasa sebagai suatu hal yang sangat menjengkelkan dan merusak mood, bahkan produktivitas kerja.
Oleh karena itu, siapkan diri untuk menghadapi hal-hal yang tidak diperkirakan. Jika memang kemudian rencana kita tidak berjalan dengan semestinya, maka anda akan bisa menanggapinya dengan santai. Satu lagi, artikel dari kami yang berjudul "10 Cara Untuk Mengontrol Emosi" mungkin bisa beguna bagi anda.
5. Biasakanlah untuk beristirahat
Di era modern ini, ada banyak orang yang tidak bisa beristirahat. Kehidupan mereka selalu diburu-buru oleh deadline dan target-target tertentu. Tak hanya di kalangan profesional, kejadian ini juga menimpa para pelajar, ibu rumah tangga, dan hampir semua orang yang memiliki obsesi terhadap sesuatu. Mereka akan merasa bersalah apabila harus beristirahat, karena menganggapnya sebagai tindakan membuang-buang waktu yang menjauhkan mereka dari target akhir.
Pola hidup di atas tentu saja harus dijauhi. Beristirahat adalah hal yang sangat vital untuk memulihkan kondisi tubuh dan pikiran sehingga nantinya anda bisa bekerja dengan lebih optimal. Selain itu, saat beristirahat kita bisa mendapatkan berbagai ide dan inspirasi brillian yang berdampak positif terhadap pekerjaan yang kita lakukan.
4. Hindari hal-hal yang bisa membuat bosan
Rasa tidak sabar biasanya datang saat anda melakukan sesuatu yang membosankan, misalkan saat menunggu antrian. Oleh karena itu, biasakanlah untuk membuat diri anda selalu sibuk sehingga pikiran anda tidak termakan oleh rasa bosan, yang pada akhirnya bisa mengakibatkan rasa tidak sabar dan juga perasaan bad mood.
Cobalah untuk selalu membawa bacaan atau buku catatan. Ketika saat-saat yang membosankan tiba, buat diri anda sibuk dengan bacaan yang anda bawa, atau sekedar menulis dan mencorat-coret di buku catatan. Hal ini juga bisa membuat anda menjadi seorang individu yang lebih produktif.
3. Bedakan "kesabaran" dengan "menunda-nunda pekerjaan"
Poin ini bisa menjadi satu hal yang menjerumuskan anda. "Sabar" tidak selalu berarti "menunda". Jangan gunakan kesabaran sebagai dalih untuk melarikan diri dari hal-hal yang seharusnya anda selesaikan. Jika anda bersabar, maka selalu ada unsur positif di balik tindakan menunda yang anda lakukan. Namun jika anda menunda hanya karena rasa malas, dan tidak ada hal positif yang didapatkan di balik penundaan tersebut, maka hal itu sama sekali bukan merupakan tindakan yang sabar, dan justru harus dijauhi karena sangat tidak produktif.
2. Tanamkan pola pikir "bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian"
Pada intinya, kesabaran adalah kemampuan untuk menahan diri dari berbagai kesenangan sesaat, demi mencapai target di masa depan yang lebih baik. "Kesenangan sesaat" ini bisa berarti keinginan untuk membelanjakan uang, keinginan untuk meluapkan kemarahan, atau keinginan untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek.
Jika anda selalu menerapkan pola pikir "bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian", maka anda akan menjadi lebih mudah menjadi seseorang yang penyabar. Ingat, prinsip ini tidak hanya sekedar dipahami, namun harus bisa juga diterapkan.
1. Selalu berpikir untuk jangka panjang
Satu lagi poin terakhir dan paling penting untuk menjadi orang yang sabar adalah selalu berpikir untuk jangka panjang. Jika saat ini saya membelanjakan uang yang saya dapatkan untuk membeli barang tertentu, akankah hal ini lebih bermanfaat dari keuntungan jangka panjang yang diperoleh jika uang ini saya tabung? Jika saat ini saya marah pada seseorang, apakah kemarahan saat ini akan berpengaruh terhadap hubungan jangka panjang saya dengan orang tersebut? Jika saya menunda pekerjaan ini karena sekarang ingin melakukan hal yang saya sukai, akankah hal ini menimbulkan beban kerja yang terlalu berat di masa depan? Jika saat ini saya memarahi istri saya, apakah hal ini bisa membuatnya lebih baik di masa depan, atau hanya sekedar luapan kekesalan saja?
Apabila anda terbiasa untuk tidak dibutakan oleh keinginan sesaat, maka secara otomatis pola hidup sabar akan lebih mudah terbentuk. Semoga bermanfaat!
Langganan:
Postingan (Atom)








